Noein, anak haram sang bangsawan yang lahir dari selir ayahnya, tumbuh dalam bayang‑bayang kebencian keluarga dan pelayan. Karena sifatnya yang bengkok, ia dipenjara di rumah selama bertahun‑tahun, lalu diusir dari istana. Alih‑alih dipotong hubungan dengan keluarga, Noein justru diberi sebidang tanah di perbatasan kerajaan lengkap gelar lord. Sayangnya, perbatasan itu hanyalah hamparan hutan liar yang belum tersentuh.
Bertekad menjadikan wilayah itu ladang kebahagiaan dan menjadi lord terbahagia, Noein mulai mengolah tanah dengan sihir mengendalikan golem yang ia kuasai selama di tahanan rumah, ditambah ilmu pengetahuan yang ia serap dari buku‑buku. Ia membajak tanah tandus, menanam padi, dan dua tahap awal proyek berjalan mulus. Tapi sayangnya, tak ada satu pun penduduk yang menghuni wilayah itu.
Tanpa menunggu lama, Noein langsung mengumpulkan orang‑orang. Metodenya sungguh luar biasa: ia merekrut bandit‑bandit menjadi pengawal, mengumpulkan para pengungsi menjadi tenaga kerja yang patuh, bahkan memikat hati putri pedagang supaya menjadi penasehat keuangan. Penduduk fiefdom pun hanya bisa memberi hormat dan kasih sayang pada sang lord. Keberhasilan Noein dalam mengembangkan perbatasan ini pun menarik perhatian perusahaan dagang besar dan bangsawan tinggi. Begitulah kisah seorang lord bengkok yang menaklukkan perbatasan dimulai.




